Kediri Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur pada hari ini, Jumat (22/10/2021).. Kunjungan Nadiem diterima langsung oleh Dewan Pengasuh Pesantren Lirboyo, yaitu KH Anwar Manshur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH KH Azizi Hasbullah terkenal sebagai macan Lirboyo. Sebuah julukan yang menggambarkan kepiawaiannya dalam ranah bahstul masail. Kepulangannya ke hadirat Allah Swt tentu saja meninggalkan banyak kenangan di benak sahabat dan jejak digital tentang cerita beliau yang tersebar di media sosia. Di antaranya adalah tulisan Mukti Ali Qusyairi, alumni Pesantren Lirboyo Kediri dan Ketua Lembaga Bahtsul Masail LBM Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama PWNU DKI Jakarta yang ia unggah di akun facebooknya.“Saya sebagai murid, saya ingin menulis sekilas tentang beliau sependek yang saya tahu. Karena bagi saya, beliau adalah tokoh penting.” semula saya nyantri di Lirboyo, nama Romo KH Azizi Hasbullah selanjutnya disebut Kiai Azizi sudah menjadi buah bibir dan tema tersendiri dalam obrolan-obrolan warung kopi para santri. Pasalnya, di dalam diri Kiai Azizi ada anomali atau ketidaknormalan yang mengejutkan bagi publik Kiai Azizi dari keluarga yang kurang berada, sehingga agar bisa nyantri di Lirboyo dengan memilih menjadi dalem Kiai pengasuh Lirboyo. Lantaran dengan memilih menjadi dalem, ia bisa gratis sekolah dan mesantren serta mendapatkan kebutuhan makan-minum serta kebutuhan merupakan tradisi pesantren. Yaitu kerja-kerja khidmah, pengabdian, dan membantu berbagai hal yang dibutuhkan sang kiai. Misalkan menjaga toko kitab, warung/kantin, memasak, mengurus sawah, atau mengurus binatang ternak, dll. Akan tetapi kerja-kerja itu dilakukan di luar jam wajib sekolah dan ngaji Azizi konon mendapatkan pengabdian di bidang mengurus sapi-sapi milik keluarga almaghfurlah Romo KH Ahmad Idris Marzuqi, pengasuh Pesantren Lirboyo generasi menjadi santri, Kiai Azizi sibuk mencari rumput, memberi makan-minum, dan membersihkan kandang sapi serta memandikan sapi-sapi. Kadang-kandang sapi berada di samping pesantren. Kiai Azizi pun semasa menjadi santri sampai menjadi guru kami, kiai kami, hidup dan mukim di sebuah gubuk terbuat dari bambu dan jerami yang berada tidak jauh dari kandang sibuk dalem mengurus sapi-sapi yang cukup menyita waktu dan menguras tenaga, tetapi Kiai Azizi menjadi siswa yang paling menonjol kemampuan hapalan, pemahaman, mental, dan artikulasinya. Beliau selalu menjadi Rais Am, ketua musyawarah kitab, dan aktivis serta santri bahtsul masail pilih yang dikagumi oleh publik santri. Sembari bertanya-tanya, mana mungkin dalam waktu bersamaan sibuk luar biasa dalem ngurus sapi dan menjadi siswa yang paling menonjol?! Ada yang bergumam, “ini anomali, gak normal!”. Ada yang bilang, “Genius!”. Juga ada yang bilang dengan bahasa agak intelek, “Out of the box!” Semua mengagumi. Di Lirboyo, Kiai Azizi Hasbullah menjadi tokoh fenomenal sejak menjadi santri hingga detik ini. Banyak yang menjuluki “Macan Lirboyo!”Saya pun mengaguminya. Fans berat. Meski selain beliau, ada tokoh-tokoh di dalam Lirboyo yang saya kagumi seperti di antaranya yaitu Gus KH Ishomuddin Adziq, Pak Kiai Rosichun Zaka, Pak Kiai Ali Musthofa, Pak KH Saiful Mahrus Aly, Tokoh Kemerdekaan Dari Pesantren LirboyoBahtsul MasailKetika saya masih ibtidaiyah, suka menonton dan mendengarkan Kiai Azizi Hasbullah sedang menjelaskan rumusan dalam perhelatan bahtsul masail yang di adakan di Serambi tsanawiyah MTs baru bisa ikut belajar bahtsul masail dan musyawarah kitab Fathul Qarib lintas kelas tsanawiyah dan aliyah. Dewan perumusnya di antaranya Kiai Azizi, Pak KH Ali Musthofa, dll. Ketika beliau menjelaskan, saya pasang kuping dengan lebar. Rasanya senang sekali bisa dibimbing sang maestro bahtsul saya terkaget-kaget, kok bisa Kiai Azizi dalam merumuskan jawaban persoalan dengan memasukan pada bab kitab fikih yang sepertinya kurang nyambung tapi memang itu jawabannya. Pelan-pelan saya amati, dan setelah kelas tiga tsanawiyah dan sudah lumayan banyak baca kitab-kitab kuning seperti Bujayrami ala al-Khathim Syarah Iqna”, di sekolah juga belajar Fathul Mu’in dengan Syarah I’anat al-Thalibib dan Tarsyikhul Mustafidin, Hasyiyah Syarwani Sayah Tuhfatul Muhtaj pemberian kakak saya Qurratul Ain beli ketika haji, dll. Serta rajin mencatat ibarat-ibarat/penjelasan kitab yang penting. Saya baru memahami, ya memang ada banyak persoalan yang di bahas di bab kitab fikih yang terlihat tidak nyambung tetapi sebetulnya kitab fikih dalam pengebaban sudah baku. Itu-itu saja babnya. Misalkan ubudiyah, munakahat, mu’amalat, dan jinayat. Bagi yang biasa membaca buku modern pasti akan bingung mencari jawaban dari kitab kuning. Sebab buku modern ditulis secara spesifik dan tematis serta kasuistik/masalah permasalah. Sedangkan kitab kuning tidak ditulis secara tematis dan tidak akan menemukan tema tahlilan atau sedekah yang pahalanya untuk mayat, tapi kita akan menemukannya di bab janazah dal lain tiba saatnya di sekolah MHM Madrasah Hidayatul Mubtadiin Lirboyo saya mendapati materi kitab ushul fikih Waraqat, disusul Tashil al-Thuruqat, dan Lubbul Ushul. Kakak kelasku, Kang H Said Salim yang saat ini menjadi kakak ipar, menitipkan saya ke Kiai Azizi untuk ikut kursus kitab ushul fikih. Karena Kang H Said saat itu mau boyong tamatan. Kami sowan dengan membawa gula batu dan teh upet khas saat itu saya aktif kursus ushul fikih kitab Lubul Ushul bersama Kiai Azizi di biliknya yang terbuat dari bambu dan jerami itu. Biasa kita menyebutnya “gedeg”.Saya masih ternginang cara beliau menjelaskan. Menjelaskan pengertian dari kata perkata yang ada di dalam kitab. Sejujurnya saya baru bisa memahami ushul fikih berkat kursus dengan Kiai ketika beranjak naik kelas Aliyah menjumpai kitab Jam’u al-Jawami 2 jilid, saya merasa agak ringan karena ada modal kurus kitab Lubul Ushul bersama Kiai Aliyah, tahun 1998-2000. Di saat saya sedang gandrung membaca buku-buku pemikir muslim Indonesia maupun Timur Tengah bahkan Barat, sembari saya terkadang nulis di Majalah dinding Lirboyo dan menjadi Sekjen Bahtsul Masail Kelas Aliyah. Saya sowan ke Kiai Azizi dengan tujuan mencopi makalah-makalah beliau. Beliau makalah-makalah itu saya ketik ulang di tempat rental komputer di Kota Kediri dan saya simpan di disket. Saat itu belum ada flashdisk. Saya edit dan kasih pengantar kajian atas tulisan-tulisan beliau. Jadilah buku yang diberi judul “Kontekstualisasi Doktrin Fikih Islam”.Buku itu diterbitkan dan dicetak oleh kami bersama teman sekelas, Fajar Mukhlasin Nur ketua kelas yang juga orang Malang, Bustomi, dan lain-lain. Dananya itu diterbitkan dan dicetak oleh kami bersama teman sekelas, Fajar Mukhlasin Nur ketua kelas yang juga orang Malang, Bustomi, dll. Dananya itu kita jual habis ketika dilaunching dan dibedah oleh penulisnya langsung Kiai Azizi Hasbullah. Karena Kiai Azizi adalah magnet dan idola para santri Lirboyo, sehingga tak butuh waktu lama menghabiskan buku uang hasil penjualan buku terkumpul, labanya kami berikan kepada Kiai Azizi sebagai penulis dan modal dikembalikan ke teman-teman sambil mayoran terong. Mensyukuri kesuksesan murid. Pada tahun 2021, kami pernah mengundang beliau bersama Kiai Zahro Wardi untuk menjadi perumus LBM PWNU DKI Jakarta. Dan bersedia datang. Betul-betul datang ke Jakarta. Kami senang sekali. Terasa mendapatkan keberkahan dan wawasan yang luar kini Sang macan Lirboyo itu telah Lahu Alfatihah Imam HamidiSumber Facebook Mukti Ali Qusyairi Pesantrenini terkenal dengan penerapan disiplin, penguasaan bahasa asing (Arab dan Inggris), kaderisasi dan jaringan alumni yang sangat kuat. Sejak didirikan pada 1926, Gontor merupakan lembaga pendidikan yang tidak terikat dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan mana pun.
Menampilkan Artikel dengan Tag "Alumni" Dawuh Masyayikh Drama “Siapa yang Bicara di Bawah Pohon, Wudhunya Batal!” Santri sudah seharusnya berusaha untuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat, dan memang itu khidmah terbesar mereka selepas dari pesantren, selain juga sejak dulu kala masyarakat lebih dekat dengan santri atau kiai langgar daripada yang lain. Mereka mengeluhkan dan mengadukan segala persoalan hidup mulai hal terkecil sekalipun, seperti anaknya yang sedang menderita sakit gigi, misalnya. Dari sini […] Badan Otonom Pesantren Lirboyo Gerak Sunyi HIMASAL Jateng Mengabdi Kepada Kiai, NU Dan NKRI HIMASAL Himpuan Alumni Santri Lirboyo Jawa Tengah terus melakukan konsolidasi organisasi sejak pelantikan 2015 hingga sekarang, di bawah kreativitas dan keuletan komandannya, Gus Mahin Tegalrejo Magelang. Beliau telaten menyapa, silaturrahim dan memberi support kepada para alumni mulai Himasal tingkat Kecamatan, Kabupaten, hingga tingkat Jawa Tengah untuk semakin menyambung alaqah bathiniah’ ikatan batin, red. terhadap Masyayikh […] Artikel Pencipta Sholawat Badar Itu Kiai NU Alumni Lirboyo Asal Tuban Jatim Shalawat Badar sangat familiar di kalangan nahdliyin warga Nahdlatul Ulama. Di hampir seluruh kegiatan Nahdlatul Ulama, shalawat ini selalu didengungkan. Berikut sebagian teks Shalawat Badar صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ * عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ Shalaatullaah Salaamul laah Alaa Thaaha Rasuulillaah Rahmat dan keselamatan Allah, semoga tetap untuk Thaaha* utusan Allah صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ […] Pojok Lirboyo Selapanan Alumni Lirboyo Daerah Magelang Lirboyonet-Kediri, Rutinan Selapanan Kec. Salaman Kab. Magelang digelar setiap malam Rabu Legi. Kali ini bertempat di dalem K. Zuhdi Alumni 2000 Lantabur. Selapanan dimulai pukul 2100 Wib diawali pembacaan hirzul jauzan dan tahlil birrul masyayikh dilanjutkan do’a oleh alumni setempat, Kyai Abdul Mun’im. Rutinan Alumni Lirboyo daerah Magelang, cabang Kecamatan Salaman ini juga dihadiri Ketua […] Pojok Lirboyo Peran Santri Dalam Menangkal Radikalisme Agama Lirboyonet, Jakarta – Sukses sudah gelaran Seminar yang diprakaryai Istikmal Jabodetabek dalam Ngaji Toleransi yang bertajuk Peran Santri Dalam Menangkal Radikalisme Agama. Seminar yang diadakan di Desa Wisata Taman Mini Indonesia Indah, Sabtu 09/12/17 merupakan kerja sama dengan kementrian koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan Lembaga Riset Prima Center Indonesia. Seminar diadakan untuk merespons fenomena […] Pojok Lirboyo Pra PKPNU Santri Lirboyo Lirboyonet, Kediri– Seluruh peserta PKPNU Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama malam tadi 23/11 dikumpulkan di Aula Al- Muktamar guna melaksanakan Pra PKPNU, seluruh peserta yang hadir malam tadi adalah santri dan alumni dari Ponpes Lirboyo ada yang masih berdomisili di pondok ada juga yang sudah di Rumah. PKPNU yang akan dilaksanakan senin mendatang adalah suatu […]
Keduanyajuga dianggap layak untuk menjadi pemimpin organisasi yang berdiri sejak tahun 1926 itu. Baca juga: Said Aqil dan Yahya Staquf Sama-sama Mumpuni, PBNU Perlu Regenerasi Kepemimpinan. Berikut profil singkat lima calon Ketua Umum PBNU yang dirangkum berbagai sumber : KH. Said Aqil Siradj
Kediri - Seluruh santri dan alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri diinstruksikan melakukan istigasah di daerah masing-masing untuk meredam gejolak politik perpecahan umat yang mengancam bangsa Indonesia. Sekretaris Pengurus Pusat Himpunan Alumni Santri Lirboyo Himasal Kiai Athoillah Sholahuddin Anwar mengatakan instruksi kepada seluruh santri dan alumni santri Lirboyo untuk melakukan istigasah ini dikeluarkan beberapa hari lalu. “Ini untuk menanggapi pertanyaan masyarakat dan wali santri atas kondisi bangsa yang kian memprihatinkan,” kata Gus Atok, panggilan Kiai Athoillah, kepada Tempo, Senin, 13 Februari 2017. Baca juga Jabatan Gubernur DKI Ini Gaji, Fasilitas, dan Tantangannya Eks Presiden Peru Diburu, yang Beri Info Dapat Rp 399,6 Juta Gus Atok menambahkan, situasi politik yang terjadi saat ini telah merembet ke berbagai ranah kehidupan masyarakat dan memicu konflik horizontal yang luar biasa. Selain pemberitaan media massa yang gencar, konflik sesungguhnya yang mengarah SARA juga terpantau dari perang di media sosial. Banyaknya informasi bohong atau hoax yang berkelindan di antara caci maki memperparah kebingungan umat yang tak cukup memiliki pengetahuan kuat. Akibatnya, tak sedikit dari wali santri ataupun masyarakat di sekitar pondok yang menanyakan kebenaran informasi atau berita itu kepada pengurus pondok Lirboyo. Hingga kemudian pengurus pusat Himasal menginstruksikan seluruh santri dan alumni yang tersebar di seluruh pelosok tanah air melakukan istigasah di daerah masing-masing. “Tujuannya untuk mendinginkan suasana dan meredam konflik,” kata Gus Atok. Bagi alumni santri yang telah menjadi ulama dan tokoh masyarakat diimbau melakukan istigasah dengan melibatkan warga sekitar. Sehingga upaya mendinginkan suasana ini bisa berjalan serentak dari seluruh negeri, utamanya yang akan menggelar pemilihan kepala daerah. Menurut catatan pengurus Himasal, lebih dari satu juta alumni Lirboyo yang tersebar di berbagai pulau dan siap melakukan instruksi tersebut. Baca juga Grammy Awards, Beyonce dan Adele Masih Bertarung Siapa Saja Kandidat Ketua Mahkamah AgungIklan Pondok Pesantren Lirboyo selama ini memang kerap menjadi tumpuan informasi bagi masyarakat ataupun warga Nahdliyin saat menghadapi persoalan. Tak hanya urusan yang berkaitan dengan ibadah, seperti penentuan dimulainya ibadah puasa dan hari raya, berbagai persoalan sehari-hari kerap ditanyakan kepada pengasuh pondok. Karena itu, tak sedikit materi pertanyaan tersebut yang dibawa dalam forum rembuk atau diskusi santri yang dikemas dalam kegiatan Bahtsul Abdul Muid, pengasuh Pondok Lirboyo yang aktif dalam forum Bahstul Masail, mengatakan forum tersebut kerap mengangkat isu atau persoalan yang sedang hangat terjadi di masyarakat. Dalam kajian itu para peserta diskusi akan meninjau dari berbagai aspek dan rujukan kitab. “Persoalan itu kami ambil dari kehidupan masyarakat di dalam dan luar pondok,” kata Gus Muid. HARI TRI WASONO
Calon gubernur Jawa Timur nomor urut 2, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menghadiri pertemuan yang digelar Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) di Aula Al Muktamar Ponpes Lirboyo, Kota Kediri, Rabu (11/4) malam.. Sebelum bertemu dengan para alumni, Gus Ipul sowan terlebih dahulu di kediaman pengasuh Ponpes Lirboyo KH Anwar
Pesantren adalah lembaga yang sangat efektif untuk mengembangkan dan mempertahankan ajaran Ahli Sunah wal Jama’ah, sekaligus men’cetak’ ulama-ulamanya. Oleh karena itu pondok pesantren harus ditumbuh kembangkan dan diangkat, baik kualitas maupun kwantitasnya. Untuk tercapainya tujuan tersebut, sangat erat kaitannya kepada ulama pondok pesantren yang selalu bersatu padu memperkokoh tali silaturrahim, banyak bermusyawarah, saling tolong menolong, bantu membantu, baik yang bersifat pribadi maupun organisasi yang dibentuk para alumninya. Dan berdasarkan pemikiran ini, para alumni Pondok Pesantren Lirboyo, dengan penuh kesadaran dan tawakkal membentuk organisasi dengan nama HIMASAL, singkatan dari Himpunan Alumni Santri Lirboyo. HIMASAL lahir di Lirboyo pada tanggal 26 Syawal 1416 H. bertepatan dengan tanggal 15 Maret 1996 M. Organisasi ini bersifat kekeluargaan dan beraqidah Islam menurut faham Ahli Sunnah wal Jama’ah serta mengikuti salah satu madzhab empat Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali yang beranggotakan setiap santri yang pernah belajar di Pondok Pesantren Lirboyo dan menyetujui azas-azas, aqidah tujuan dan sanggup melaksanakan semua keputusan organisasi. Kepengurusannya terdiri dari Dewan Pembina, Dewan Penasehat dan Dewan Pimpinan. Sedang tingkat kepengurusan organisasi yang berazaskan Pancasila ini terbagi menjadi tiga macam Kepengurusan Pusat, disingkat dengan PP, Pengurus Wilayah tingkat provinsi disingkat PW dan Pengurus Cabang tingkat Kabupaten/ Kotamadya/ Kota disingkat PC. Untuk permusyawaratannya, terbagi menjadi empat Musyawarah Nasional MUNAS, Musyawarah Besar MUBES, Musyawarah Wilayah MUSWIL dan Musyawarah Cabang MUSCAB. Keuangan organisasi yang berpusat di Pondok Pesantren Lirboyo ini, bersumber dari sumbangan yang tidak mengikat dan usahan-usaha halal lainnya. Semenjak terbentuk, HIMASAL telah menggelar MUNAS tiga kali. Pertama pada tanggal 17-19 Juli 2001, kedua digelar serangkai dengan peringatan Satu Abad Lirboyo pada 17 Juli 2010, dan ketiga pada 26 Mei 2015. 4 Alumni Muslim Pesantren salahsatu pondok pesantren yang terkenal dan terbesar adalah pondok pesantren lirboyo. saudara2 saya pak zainal hamami dll.. serta ayah saya pak haroen rosyid juga santri dan alumni lirboyo, guru saya mbah yahi kholil betik ngampel mojoroto kediri, beliau guru senior kami di ponpes lirboyo, beliau biasa ikut ngaji al-hikam di ponpes
- Pondok Pesantren Lirboyo di Kota Kediri, Jawa Timur telah mencetak ulama hingga pejuang sejak awal abad ke-19. Pendirian pondok pesantren ini memiliki sejarah unik. Termasuk kisah santri pertama bernama Umar, bocah lugu yang berasal dari Madiun. Melansir laman resmi Ponpes Lirboyo, pada awalnya nama Lirboyo diambil dari sebuah desa terpencil yang terletak di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Sebelum berdiri pesantren, Desa Lirboyo bahkan tersohor sebagai sarang para perampok dan penyamun. Sejarah pendirian Ponpes Lirboyo berkaitan erat dengan awal mula KH Abdul Karim tinggal di Desa Lirboyo sekitar 1910 M. Setelah kelahiran putri pertama beliau yang bernama Hannah dari perkawinannya dengan Nyai Khodijah atau biasa disapa Nyai Dlomroh, putri Kiai Sholeh Abdul Karim pindah ke Desa Lirboyo berkat dorongan sang mertua yang kala itu menjadi dai di desa tersebut. Kiai Sholeh berharap dengan menetapnya KH Abdul Karim di Lirboyo, berharap syiar Islam bisa lebih luas lagi. Keputusan pindah ke Lirboyo juga karena permohonan Kepala Desa Lirboyo kepada Kiai Sholeh, agar berkenan menempatkan salah satu menantunya di desa itu. Ia berharap Lirboyo yang semula angker dan menjadi sarang penyamun bisa menjadi desa yang aman dan puluh lima hari setelah menempati tanah wakaf tersebut, Abdul Karim mendirikan surau mungil nan sederhana untuk mendekatkan diri kepada sang Pertama LirboyoMenjadi orang pertama memang selalu dikenang. Seperti halnya santri pertama yang menimba ilmu dari KH Abdul Karim. Dia adalah seorang bocah lugu yang bernama Umar asal Madiun. Kedatangan Umar disambut baik oleh KH Abdul Karim. Selama nyantri, Umar sangat ulet dan telaten serta taat kepada beberapa waktu, tiga orang santri menyusul jejak Umar. Mereka berasal dari Magelang yakni Yusuf, Shomad, dan Sahil. Tidak lama kemudian datanglah dua orang santri bernama Syamsuddin dan Maulana. Keduanya berasal dari Gurah, Kediri. Memasuki hari kedua, semua barang-barang milik kedua santri tersebut ludes diambil pencuri. Memang pada saat itu situasi Lirboyo belum sepenuhnya aman, Lirboyo masih menyisakan tangan-tangan kotor. Akhirnya mereka berdua mengurungkan niatnya untuk mencari ilmu. Mereka pulang ke kampung Semakin Dikenal MasyarakatMeski harus melalui perjuangan, keberadaan Pondok Pesantren Lirboyo semakin dikenal oleh masyarakat luas dari tahun ke tahun. Santri semakin banyak berdatangan. Namun kali ini pihak Lirboyo sudah siap-siaga dengan ulah para penyamun. Mereka tak mau lagi apa yang pernah dialami oleh Syamsuddin dan Maulana terulang, maka dibentuklah satuan keamanan yang bertugas ronda keliling di sekitar 1913 M, KH Karim merintis pendirian masjid di lingkungan Ponpes Lirboyo. Awalnya masjid itu sangat sederhana, dinding dan atap terbuat dari kayu. Bahkan suatu ketika bangunan itu hancur porak-poranda ditiup angin beliung dengan KH Muhammad, Kakak Ipar KH Karim, berinisiatif untuk membangun kembali masjid yang telah rusak itu dengan bangunan yang lebih permanen. Dari pertemuan antara seorang dermawan, H Ya’qub, dengan KH Ma’ruf Kedunglo itu membuahkan persetujuan, yaitu dana pembangunan masjid dimintakan dari sumbangan para dermawan dan itu kemudian diresmikan pada 15 Rabiul Awwal 1347 H 1928 M, atau bertepatan dengan acara ngunduh mantu putri Abdul Karim yang kedua, Salamah dengan Manshur Paculgowang. Bangunan masjid itu tergolong megah pada masanya. Mustaka menjulang tinggi, dinding dan lantai terbuat dari batu merah dengan gaya bangunan klasik yang merupakan gaya arsitektur Jawa kuno dengan gaya arsitektur negara Timur yang semula hanya satu, ditambah lagi menjadi sembilan. Itu atas prakarsa KH Ma’ruf untuk mengenang kembali masa keemasan Islam pada abad pertengahan. Arsitektur itu mirip kejayaan daulat santri kian bertambah banyak, masjid itu diperluas dengan menambah serambi muka sekitar 1984. Sekitar 1994, masjid ini mendapat penambahan bangunan di serambi depan masjid. Namun santri dan jamaah rupanya makin banyak sehingga sebagian harus berjamaah tanpa menggunakan atap. Bahkan sampai kini bila berjamaah salat Jumat, banyak santri dan penduduk yang harus beralaskan aspal jalan kini masjid itu tidak mengalami perubahan, untuk menjaga dan melestarikan nilai ritual dan historis. Namun, hampir menjelang akhir tahun dinding-dinding masjid yang sudah cukup tua itu dicat ulang dan sedikit ditambal Lirboyo juga masih menyisakan pintu gerbang dengan bentuk dan bahan aslinya yang terbuat dari papan dengan atap genting. Bangunan itu menjadi saksi sejarah yang tetap tegak berdiri mengawal perjuangan Islam hingga Perjalanan Hidup KH Abdul KarimAbdul Karim lahir tahun 1856 M di desa Diyangan, Kawedanan, Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, dari pasangan Kiai Abdur Rahim dan Nyai Salamah. Manab adalah nama kecil beliau dan merupakan putra ketiga dari empat bersaudara. Saat usia 14 tahun, mulailah beliau melanglang buana dalam menimba ilmu agama dan saat itu beliau berangkat bersama sang kakak Kiai Aliman.Ia pertama kali menimba ilmu di sebuah pesantren yang terletak di desa Babadan, Gurah, Kediri. Ia lalu meneruskan pengembaraan ke daerah Cepoko, 20 km arah selatan Nganjuk, di sini kurang lebih selama 6 Tahun. Setelah itu, dia meneruskan ke Pesantren Trayang, Bangsri, Kertosono, Nganjuk Jatim. Di pesantren ini dia memperdalam pengkajian ilmu Al-Quran. Ia melanjutkan pengembaraan ke Pesantren Sono, sebelah timur Sidoarjo, sebuah pesantren yang terkenal dengan ilmu Shorof-nya selama 7 juga tercatat pernah nyantri di Pondok Pesantren Kedungdoro, Sepanjang, Surabaya. Hingga akhirnya, beliau kemudian meneruskan pengembaraan ilmu di salah satu pesantren besar di pulau Madura, asuhan ulama’ kharismatik; Syaikhona Kholil Bangkalan. Cukup lama beliau menuntut ilmu di Madura, sekitar 23 memasuki usia 40 tahun, dia berangkat ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jatim untuk belajar. Pondok itu diasuh oleh sahabat karibnya semasa di Bangkalan Madura, KH Hasyim Asy’ cinta KH Karim bersemi di sini. KH. Hasyim Asy’ari menjodohkan KH. Abdul Karim dengan putri Kiai Sholeh dari Banjarmelati Kediri, pada 1328 H/ 1908 Karim menikah dengan Siti Khodijah Binti KH. Sholeh, yang kemudian dikenal dengan nama Nyai Dlomroh. Dua tahun kemudian KH. Abdul karim bersama istri tercinta hijrah ke tempat baru, di sebuah desa yang bernama Lirboyo, tahun 1910 M. Disinilah titik awal tumbuhnya Pondok Pesantren 1950-an, saat KH Abdul Karim menunaikan ibadah haji kondisi kesehatannya mengkhawatirkan. Namun ia tetap bertekad berangkat haji. Ia ditemani sahabat akrabnya KH Hasyim Asy’ari dan seorang dermawan asal Madiun H. akhirnya, pada tahun 1954, 21 Ramadhan 1374 H, KH. Abdul Karim meninggal dunia. ia dimakamkan di belakang Masjid Lirboyo.jqf
Maka kalau ada orang yang menarik-narik urusan intoleransi, maka menjadi salah satu kewajiban alumni Lirboyo untuk mengkampanyekan, menjelaskan itu, dan enggak perlu takut,” tambahnya. Apalagi sekarang ini, menurut Seskab, sudah era sosial media peran alumni pondok pesantren Lirboyo dapat membantu mengkampanyekan hal-hal yang baik dalam

Meskipun bukan akun resmi dari Pondok Pesantren Ponpes Lirboyo, ternyata akun Instagram ini justru punya banyak pengikut. Jumlahnya bahkan mengalahkan akun-akun resmi dari ponpes yang ada di Kelurahan Lirboyo tersebut. MOHAMMAD SYIFA “Wong wedok kui kudu ngalim dewe, ojo dadi bunyai Mudhof ilaih, surgo nunut neroko katut,”. Begitulah bunyi caption salah satu foto di akun Instagram serambilirboyo yang diunggah kemarin. Tidak hanya mengunggah foto dan caption singkat, dalam setiap unggahan foto selalu diikuti dengan berbagai keterangan. Keterangan itu bisa berupa hadits atau penjelasan-penjelasan dari berbagai kitab. Temanya bisa beragam. Mulai dari fiqih sehari-hari hingga isu-isu menarik lainnya. Namun, unggahan yang paling utama dari akun tersebut sebenarnya adalah terkait dengan kegiatan yang ada di Pondok Pesantren Ponpes Lirboyo. Tidak hanya kegiatan belajar-mengajar di pondok, melainkan hal-hal unik lainnya yang terjadi di pondok yang mungkin jarang diketahui oleh masyarakat luas. “Akun serambilirboyo hanyalah akun biasa. Mboten spesial,” ujar Ahmad Fahrurrozi, admin atau pengelola akun serambilirboyo kepada Jawa Pos Radar Kediri. Fahrurrozi sendiri awalnya sebenarnya malu-malu’ dan enggan mengungkap identitasnya saat wartawan koran ini hendak mencari tahu siapa pengelola akun tersebut. Lelaki yang juga merupakan alumni Ponpes Lirboyo 2011 tersebut ingin apa yang dia lakukan benar-benar tidak diketahui orang lain. Menurut dia, akun media sosial tersebut sengaja dibuat dari ide yang sangat sederhana. Yakni bermula dari adanya rasa cinta terhadap pesantren, masyayikh, dan rasa eman. “Eman kalau dawuh dari para masyayikh Lirboyo tidak disebarluaskan,” sambung alumni yang kini tinggal di Magelang tersebut. Menurut dia, ada banyak akun-akun yang sebenarnya membagikan petuah dari para ulama. Namun, akun serambilirboyo ini mengkhususkan untuk menyebarluaskan dawuh dari ulama Lirboyo. Harapannya, agar orang tua yang melihat pesan-pesan itu akhirnya tertarik untuk memondokkan anaknya. Lantas, kapan akun tersebut mulai dibentuk? Menurut Fahrurrozi, awalnya dia hanya membuat akun Facebook yang saat ini sudah dikelola langsung oleh pihak pondok. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, muncul Instagram. Dari situlah lantas berinisiatif untuk membuat akun serambilirboyo. Menariknya, kata Fahrurrozi, akun tersebut sebenarnya bukanlah akun resmi yang dibuat oleh pengurus pondok. Melainkan, hanyalah akun untuk mewadahi para alumni yang sekiranya kangen’ dengan suasana di pondok. “Kalau pengurus pondok dan lembaga punya akun tersendiri,” tandas lelaki 29 tahun itu. Menariknya, dari pantauan wartawan koran ini, justru akun serambilirboyo ini memiliki jumlah follower yang lebih banyak dibanding akun-akun Lirboyo lainnya. Akun serambilirboyo kini punya pengikut. Angka itu lebih besar jika dibandingkan akun pondoklirboyo yang mencapai pengikut. Selama ini, hanya Fahrurrozi yang mengelola sendiri akun tersebut. Kendati demikian, dia punya rekan-rekan yang ada di Ponpes Lirboyo yang rutin untuk setor’ foto-foto. Karena itulah, meskipun dikelola dari jauh, akun tersebut selalu mendapatkan foto atau gambar yang update. Akun itu sendiri mulai dibuat pada 2016 lalu. Saat itu dibuat satu hari jelang peringatan Hari Santri yang jatuh setiap 20 Oktober. Dari situlah lantas akun tersebut terus meningkat jumlah pengikutnya. “Kebetulan sejak masih di rumah, saya memang sudah suka dengan media sosial,” lanjutnya. Bagi dia, ada rasa suka tersendiri bisa mengelola akun tersebut. Pasalnya, sejak kecil dia memang sudah bercita-cita untuk mondok. Karena itulah, pada tahun 2000 dia langsung mondok di Lirboyo dan ternyata kerasan hingga lulus di 2011. Ke depan, Fahrurrozi berharap agar akun tersebut bisa memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Terutama dalam hal menyebarkan kebaikan kepada masyarakat, terutama para alumni Lirboyo. Meskipun bukan akun resmi dari Pondok Pesantren Ponpes Lirboyo, ternyata akun Instagram ini justru punya banyak pengikut. Jumlahnya bahkan mengalahkan akun-akun resmi dari ponpes yang ada di Kelurahan Lirboyo tersebut. MOHAMMAD SYIFA “Wong wedok kui kudu ngalim dewe, ojo dadi bunyai Mudhof ilaih, surgo nunut neroko katut,”. Begitulah bunyi caption salah satu foto di akun Instagram serambilirboyo yang diunggah kemarin. Tidak hanya mengunggah foto dan caption singkat, dalam setiap unggahan foto selalu diikuti dengan berbagai keterangan. Keterangan itu bisa berupa hadits atau penjelasan-penjelasan dari berbagai kitab. Temanya bisa beragam. Mulai dari fiqih sehari-hari hingga isu-isu menarik lainnya. Namun, unggahan yang paling utama dari akun tersebut sebenarnya adalah terkait dengan kegiatan yang ada di Pondok Pesantren Ponpes Lirboyo. Tidak hanya kegiatan belajar-mengajar di pondok, melainkan hal-hal unik lainnya yang terjadi di pondok yang mungkin jarang diketahui oleh masyarakat luas. “Akun serambilirboyo hanyalah akun biasa. Mboten spesial,” ujar Ahmad Fahrurrozi, admin atau pengelola akun serambilirboyo kepada Jawa Pos Radar Kediri. Fahrurrozi sendiri awalnya sebenarnya malu-malu’ dan enggan mengungkap identitasnya saat wartawan koran ini hendak mencari tahu siapa pengelola akun tersebut. Lelaki yang juga merupakan alumni Ponpes Lirboyo 2011 tersebut ingin apa yang dia lakukan benar-benar tidak diketahui orang lain. Menurut dia, akun media sosial tersebut sengaja dibuat dari ide yang sangat sederhana. Yakni bermula dari adanya rasa cinta terhadap pesantren, masyayikh, dan rasa eman. “Eman kalau dawuh dari para masyayikh Lirboyo tidak disebarluaskan,” sambung alumni yang kini tinggal di Magelang tersebut. Menurut dia, ada banyak akun-akun yang sebenarnya membagikan petuah dari para ulama. Namun, akun serambilirboyo ini mengkhususkan untuk menyebarluaskan dawuh dari ulama Lirboyo. Harapannya, agar orang tua yang melihat pesan-pesan itu akhirnya tertarik untuk memondokkan anaknya. Lantas, kapan akun tersebut mulai dibentuk? Menurut Fahrurrozi, awalnya dia hanya membuat akun Facebook yang saat ini sudah dikelola langsung oleh pihak pondok. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, muncul Instagram. Dari situlah lantas berinisiatif untuk membuat akun serambilirboyo. Menariknya, kata Fahrurrozi, akun tersebut sebenarnya bukanlah akun resmi yang dibuat oleh pengurus pondok. Melainkan, hanyalah akun untuk mewadahi para alumni yang sekiranya kangen’ dengan suasana di pondok. “Kalau pengurus pondok dan lembaga punya akun tersendiri,” tandas lelaki 29 tahun itu. Menariknya, dari pantauan wartawan koran ini, justru akun serambilirboyo ini memiliki jumlah follower yang lebih banyak dibanding akun-akun Lirboyo lainnya. Akun serambilirboyo kini punya pengikut. Angka itu lebih besar jika dibandingkan akun pondoklirboyo yang mencapai pengikut. Selama ini, hanya Fahrurrozi yang mengelola sendiri akun tersebut. Kendati demikian, dia punya rekan-rekan yang ada di Ponpes Lirboyo yang rutin untuk setor’ foto-foto. Karena itulah, meskipun dikelola dari jauh, akun tersebut selalu mendapatkan foto atau gambar yang update. Akun itu sendiri mulai dibuat pada 2016 lalu. Saat itu dibuat satu hari jelang peringatan Hari Santri yang jatuh setiap 20 Oktober. Dari situlah lantas akun tersebut terus meningkat jumlah pengikutnya. “Kebetulan sejak masih di rumah, saya memang sudah suka dengan media sosial,” lanjutnya. Bagi dia, ada rasa suka tersendiri bisa mengelola akun tersebut. Pasalnya, sejak kecil dia memang sudah bercita-cita untuk mondok. Karena itulah, pada tahun 2000 dia langsung mondok di Lirboyo dan ternyata kerasan hingga lulus di 2011. Ke depan, Fahrurrozi berharap agar akun tersebut bisa memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Terutama dalam hal menyebarkan kebaikan kepada masyarakat, terutama para alumni Lirboyo. Artikel Terkait

SelapananAlumni Lirboyo Daerah Magelang 28 Desember 2017 Maul lana Lirboyonet-Kediri, Rutinan Selapanan Kec. Salaman Kab. Magelang digelar setiap malam Rabu Legi. Kali ini bertempat di Pojok Lirboyo Peran Santri Dalam Menangkal

KetuaUmum Pengurus Pusat Himpunan Alumni Santri Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus menyatakan postingan akun Facebook Arief Wicaksono yang mengatakan Surat Maklumat Masyayikh Ponpes Lirboyo meberikan dukungan kepada Capres dan Cawapres Prabowo – Sandi adalah tidak benar adanya. “Jadi yang diunggah oleh akun

Foto Surat Izin Merokok Santri Lirboyo (lirboyo.net) MURIANEWS, Kudus – Lirboyo adalah nama sebuah desa yang digunakan oleh KH Abdul Karim menjadi nama Pondok Pesantren. Terletak di barat Sungai Brantas, di lembah gunung Willis, Kota Kediri. Awal mula berdiri Pondok Pesantren Lirboyo berkaitan erat dengan kepindahan dan menetapnya KH
DalamSambutannya Abdun Selaku ketua panitia Safari Ramadhan mengatakan “dengan di adakannya Safari Ramadhan ponpes Lirboyo, daerah Priyangan banyak pengalaman yang kami petik”. “Bagaimana cara bermuhasyaroh di masyarakat dengan baik, juga cara mentransformasi kan ilmu yang kami pelajari selama di pondok”, tegasnya. Sungaiyang terkenal deras airnya dan terus mengalir sepanjang musim banyak memberikan kehidupan para santri serta para masyarakat sekitarnya. Dipinggir sungai inilah terletak desa Ploso, 15 km arah selatan dari Kediri. Seperti Gus Zidni, alumni pesantren Lirboyo dl. Read more. Archive 2009
KetuaHimpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Kabupaten Indramayu, KH Masruri mengatakan, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri mulai hari ini meliburkan santrinya hingga. batas waktu yang belum bisa ditentukan. "Ada 450 santri dengan menggunakan 9 bus," ujar dia kepada Tribuncirebon.com.. KH Masruri mengatakan, untuk pemulangan para santri pihaknya sudah
REPUBLIKACO.ID, KEDIRI— Sebanyak 15.500 santri putra dan putri dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, dipulangkan ke daerahnya masing-masing, dengan tetap mematuhi protokol

DantriAlmahrusiyah Sowan Syekh Yusuf Bin Abdulloh Al-Kaurani adalah ulama besar yang penuh akan keilmuan.. akhlak , artikel , lirboyo , Literasi , Motivasi , pesantren , Santri Mau Alim atau Alum?

Kamiketika sedang mengenyam jenjang Aliyah di Madrasah Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, kebetulan satu kelas selama dua tahun, tepatnya saat kelas 2 dan 3 Aliyah. Sebagai orang yang akan bertanggung jawab atas akhlaq dan moral warga Sumatera, Ia termasuk orang yang sangat bertanggung jawab, dan mengenai keilmuan juga jelas tidak diragukan lagi.
Ditambahyang induk (Madrasah Hidayatul Mubtadi’in), sehingga berjumlah 11. Selain itu, pesantren Lirboyo memiliki beberapa cabang: (1) Pagung Semen Kediri, (2) Turen, Malang, (3) Bakung, Blitar. Keseluruhan lokasi pesantren Lirboyo menempati lahan sekitar 20 ha. Berikut ini adalah denah pesantren Lirboyo Kediri.
Rabu 19 Februari 2020. Februari 19, 2020. Komentar
Adasekian faktor yang menjadikan mereka tidak sampai tamat. Oleh karena itu melalui silaturahmi dengan wali santri semoga akan bisa meningkatkan jumlah santri Brebes yang tamat di Pondok Pesantren Lirboyo. Pertemuan rutin alumni Lirboyo yang dilaksanakan pada hari Selasa malam Rabu, 4 Januari 2022, dihadiri oleh alumni se Kec Wanasari.

KARAWANG Ratusan Alumni Santri Lirboyo yang berada di Purwakarta dan Karawang menggelar acara silaturahmi dan halal bilhalal di Ponpes Nurul Hikmah Perum Graha Puspa, di Kelurahan Karangpawitan, Kecamatan Karawang Barat. Dalam acara tersebut, turut pula di hadiri oleh ketua DPC PKB Karawang, Rahmat Hidayat Djati, M.IP atau Kang RHD sapaan

Охθ едрисинጭйаст еፅуφаΙжዖш ωжአ ሱօпувро
Ωслафе ቶдибιнтуцЕβεጷ οло իጡጥጼէኘሬյևռυξωփխл ሲαጼ ሶሗեшሄ
Аሏужеሉ በбαжυфуслևЖጦլы ρуኪ увсθւጢտωդХрυдрከсиቤи лεш
Θбоሾ ሡቶкусኤυ ጏፎшядаւа ሱጬጮоσоጷфեфиպα ерናм
nxQJ3ww.